#WritingContestP3CSI
Nama: Sabitah Nasyiah Talitha
Umur: 9 thn
Kelas: 3 SD
Domisili: Medang, Tangerang
Judul cerita: Bullying
Genre: Sad, bullying
Tag: Waffa
Nama: Sabitah Nasyiah Talitha
Umur: 9 thn
Kelas: 3 SD
Domisili: Medang, Tangerang
Judul cerita: Bullying
Genre: Sad, bullying
Tag: Waffa
~``~Happy reading!~``~
"You and Me, Best friend forever!"
Aku rindu ucapan itu dari mulut kecilmu, Alycha. Kapan kita dapat bertemu? Di surgakah? Atau kita takkan pernah bertemu kembali? Atau...
Aku rindu ucapan itu dari mulut kecilmu, Alycha. Kapan kita dapat bertemu? Di surgakah? Atau kita takkan pernah bertemu kembali? Atau...
~``~``~
Sudah seminggu setelah kematian Alycha. Walaupun aku masih sedih, aku tetap tegar. Walau aku takkan pernah mendengar candaannya lagi. Selamanya.
“Ma, Annie pergi dulu, ya,” kataku. Mama mengangguk dan memberi bekalku. Setelah aku mengucap salam, aku langsung pergi ke sekolah.
Sesampainya di kelasku…
“Eh, ada yang sedih ditinggal sahabat enggak, ya?” goda Laura, musuhku, saat aku masuk kelas.
“Laura, pliiis. Jangan ganggu aku. Aku akan menamparmu kalau kau berani berkata begitu,” ancamku. Laura hanya tertawa.
“Ow, tenang dulu Annie! Kalau kau menamparku… aku akan melaporkanmu pada Mrs. Kellie!” Laura balas mengancamku. Mrs. Kellie adalah kepala sekolahku. Sementara aku hanya berlalu.
Kriiinggg…!!!
Bel masuk berbunyi. Sekarang waktunya pelajaran Mrs. Lily, guru IPS. Sekarang, temanya adalah ‘Kehilangan Orang Tercinta’.
“Selamat pagi, anak-anak!” sapa Mrs. Lily.
“Pagi, Miiiss!!!” balas semuanya, kecuali aku.
“Lho? Annie? Kenapa kau tampak lesu?” tanya Mrs. Lily.
“Aku…”
“Dia kesepian tanpa Alycha Miss! Kan, dia sudah disana, Annie. Jangan berharap dia akan kembali!” ejek Laura.
“Laura Annabella! Jaga omonganmu!” tegur Mrs. Lily. Laura tersenyum mengejek.
“Sudahlah, Miss. Saya tidak apa-apa, kok.” Aku berusaha melerai.
“Ma, Annie pergi dulu, ya,” kataku. Mama mengangguk dan memberi bekalku. Setelah aku mengucap salam, aku langsung pergi ke sekolah.
Sesampainya di kelasku…
“Eh, ada yang sedih ditinggal sahabat enggak, ya?” goda Laura, musuhku, saat aku masuk kelas.
“Laura, pliiis. Jangan ganggu aku. Aku akan menamparmu kalau kau berani berkata begitu,” ancamku. Laura hanya tertawa.
“Ow, tenang dulu Annie! Kalau kau menamparku… aku akan melaporkanmu pada Mrs. Kellie!” Laura balas mengancamku. Mrs. Kellie adalah kepala sekolahku. Sementara aku hanya berlalu.
Kriiinggg…!!!
Bel masuk berbunyi. Sekarang waktunya pelajaran Mrs. Lily, guru IPS. Sekarang, temanya adalah ‘Kehilangan Orang Tercinta’.
“Selamat pagi, anak-anak!” sapa Mrs. Lily.
“Pagi, Miiiss!!!” balas semuanya, kecuali aku.
“Lho? Annie? Kenapa kau tampak lesu?” tanya Mrs. Lily.
“Aku…”
“Dia kesepian tanpa Alycha Miss! Kan, dia sudah disana, Annie. Jangan berharap dia akan kembali!” ejek Laura.
“Laura Annabella! Jaga omonganmu!” tegur Mrs. Lily. Laura tersenyum mengejek.
“Sudahlah, Miss. Saya tidak apa-apa, kok.” Aku berusaha melerai.
~``~``~
Pada waktu istirahat…
“Hmmm...” Aku menyuapkan puding karamel itu ke dalam mulutku. Enak. Lalu…
“BWEEE!!!”
“Ah!” Aku berteriak, dan puding karamelku jatuh. Ternyata itu Laura. Aku menatap Laura tajam.
“Laura…” Aku berjalan menuju meja Laura. Ada sebuah kotak bekal. Isinya nasi, ayam fried chiken, dan salad sayur. Aku menumpahkan isinya ke bak sampah.
“ANNIELLA AZALEA!!!” teriak Laura histeris. “Annie! Kembalikan bekalku!”
“Aku akan mengembalikan bekalmu jika kau juga mengembalikan bekalku,” kataku.
“Ya, ya. Oke!” kata Laura yang langsung pergi.
“Lihat saja nanti, Annie…”
“Hmmm...” Aku menyuapkan puding karamel itu ke dalam mulutku. Enak. Lalu…
“BWEEE!!!”
“Ah!” Aku berteriak, dan puding karamelku jatuh. Ternyata itu Laura. Aku menatap Laura tajam.
“Laura…” Aku berjalan menuju meja Laura. Ada sebuah kotak bekal. Isinya nasi, ayam fried chiken, dan salad sayur. Aku menumpahkan isinya ke bak sampah.
“ANNIELLA AZALEA!!!” teriak Laura histeris. “Annie! Kembalikan bekalku!”
“Aku akan mengembalikan bekalmu jika kau juga mengembalikan bekalku,” kataku.
“Ya, ya. Oke!” kata Laura yang langsung pergi.
“Lihat saja nanti, Annie…”
~``~``~
“Laura!” panggilku.
“Ya?”
“Kau mau ikut aku ke Star Mall? Aku akan mentraktirmu sebagai permintaan maaf,” ucapku. Laura berpikir sebentar.
“Ya, bolehlah. Lagipula nanti aku tidak ada acara.”
“Yeah! Nanti kamu ke rumahku, ya. Pukul 2 siang,” kataku. Laura mengangguk.
Pukul 2 siang di rumahku…
“Laura! Sudah siap?” tanyaku. Laura mengangguk. Laura memakai dress pink selutut dengan stocking krem dan sepatunya berwarna pink cerah. Lalu, Mom mengantar kami ke Star Mall.
Sesampainya di sana…
“Annie, Laura, kalian kuberi waktu 3 jam. Kita berkumpul di Love Café ya,” kata Mom. Aku mengangguk.
“Thank you, Mrs. Azalea,” kata Laura. Mom tersenyum.
Pertama, kami akan ke Pudding and Drink Café. Di sana, Laura berkata sesuatu…
“Annie, maafkan aku. Maafkan aku atas bully-anku yang sudah keterlaluan,” ucap Laura tulus.
“Iya, Laura. Aku memaafkanmu, kok,” balasku. Laura tersenyum.
“Ya?”
“Kau mau ikut aku ke Star Mall? Aku akan mentraktirmu sebagai permintaan maaf,” ucapku. Laura berpikir sebentar.
“Ya, bolehlah. Lagipula nanti aku tidak ada acara.”
“Yeah! Nanti kamu ke rumahku, ya. Pukul 2 siang,” kataku. Laura mengangguk.
Pukul 2 siang di rumahku…
“Laura! Sudah siap?” tanyaku. Laura mengangguk. Laura memakai dress pink selutut dengan stocking krem dan sepatunya berwarna pink cerah. Lalu, Mom mengantar kami ke Star Mall.
Sesampainya di sana…
“Annie, Laura, kalian kuberi waktu 3 jam. Kita berkumpul di Love Café ya,” kata Mom. Aku mengangguk.
“Thank you, Mrs. Azalea,” kata Laura. Mom tersenyum.
Pertama, kami akan ke Pudding and Drink Café. Di sana, Laura berkata sesuatu…
“Annie, maafkan aku. Maafkan aku atas bully-anku yang sudah keterlaluan,” ucap Laura tulus.
“Iya, Laura. Aku memaafkanmu, kok,” balasku. Laura tersenyum.
~``~``~
2 bulan setelah kejadian permaafan…
“Ada aja yang mau temenan sama Annie,” ejek Millie.
“Heh, kenapa Laura mau temen sama kamu, sih, Anniella Azalea? Laura itu cantik, anggun, pokoknya perfect! Sementara kamu? Jelek, kumuh, dan BAD banget,” ejek Ceyla. Aku hanya bisa menunduk. Tiba-tiba Laura datang.
“Annie, aku mau bicara sebentar,” kata Laura. Dia membawaku ke toilet.
“Aku enggak mau jadi sahabatmu lagi,” kata Laura. Aku sedikit kaget.
“Lho? Kenapa?” tanyaku.
“Karena aku ini orang terhormat. Dan kamu BUKAN orang yang terhormat,” ejek Laura.
“Jika kamu mau memutuskan persahabatan kita, tidak apa-apa. Aku ikhlas, kok,” kataku tenang. Laura pergi dengan angkuh.
“Ada aja yang mau temenan sama Annie,” ejek Millie.
“Heh, kenapa Laura mau temen sama kamu, sih, Anniella Azalea? Laura itu cantik, anggun, pokoknya perfect! Sementara kamu? Jelek, kumuh, dan BAD banget,” ejek Ceyla. Aku hanya bisa menunduk. Tiba-tiba Laura datang.
“Annie, aku mau bicara sebentar,” kata Laura. Dia membawaku ke toilet.
“Aku enggak mau jadi sahabatmu lagi,” kata Laura. Aku sedikit kaget.
“Lho? Kenapa?” tanyaku.
“Karena aku ini orang terhormat. Dan kamu BUKAN orang yang terhormat,” ejek Laura.
“Jika kamu mau memutuskan persahabatan kita, tidak apa-apa. Aku ikhlas, kok,” kataku tenang. Laura pergi dengan angkuh.
~``~``~
Saat pulang sekolah…
Aku tidak langsung pulang. Aku pergi ke kantin dulu. Tiba-tiba…
“DOR!”
“Hwaaa!” seruku. Jus stoberi yang kupesan pun jatuh. Ternyata itu ulah… Laura.
“Laura, kenapa kamu kayak gini sama aku?” tanyaku lembut. Laura malah beranjak pergi.
Setelah membayar minuman, aku pun beranjak pulang. Tapi di halte, Laura hampir tertabrak!
“Laura!!! AWASSS!!!”
Ckiiit… bruk!
Setelah itu, semua gelap.
Aku tidak langsung pulang. Aku pergi ke kantin dulu. Tiba-tiba…
“DOR!”
“Hwaaa!” seruku. Jus stoberi yang kupesan pun jatuh. Ternyata itu ulah… Laura.
“Laura, kenapa kamu kayak gini sama aku?” tanyaku lembut. Laura malah beranjak pergi.
Setelah membayar minuman, aku pun beranjak pulang. Tapi di halte, Laura hampir tertabrak!
“Laura!!! AWASSS!!!”
Ckiiit… bruk!
Setelah itu, semua gelap.
~``~``~
Dear Laura…
Aku memaafkanmu. Aku akan tenang disana. Jangan khawatirkan aku. Tolong, relakan aku pergi. Jangan sedih. Kita akan bertemu suatu saat nanti
Aku memaafkanmu. Aku akan tenang disana. Jangan khawatirkan aku. Tolong, relakan aku pergi. Jangan sedih. Kita akan bertemu suatu saat nanti
-Anniella-
“Hiks… hiks. Iya, Annie. Aku juga minta maaf. Aku menyesal. Aku mengerti. Aku tidak boleh melihat orang dari penampilannya. Tap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar